1. Kacang Tak Pernah Lupa Pada Kulitnya.
Ada sebuah kalimat yang selalu aku dengar dari pamanku yang tak akan pernah aku lupakan. “Shemi, teman itu ada masanya. Gak selalu kamu dekat terus sama sahabatmu yang sekarang.” Aku selalu membayangkan Paman berbicara seperti itu ketika kulihat gambarnya pada foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Pamanku memang sudah menghadap Tuhan lebih dulu. Aku rindu sekali dengannya. Kini aku tak tahu pada siapa aku bercerita tentang apa yang aku alami saat ini. Ibuku sibuk dengan pekerjaan kantornya. Sedangkan Ayahku entah berada dimana keberadaanya sekarang. Sahabatku yang dahulu dekat dengannku kini aku tidak tahu kabarnya. Ingin menangis tapi aku selalu menahannya. Karena aku bingung harus menangis di bahu siapa? Entah, aku hanya bisa menceritakan kepada Tuhan apa yang sedang aku rasakan. Hanya dialah yang selalu ku jadikan tempat curhatku. Sahabatku Rosa kini sudah menganggapku orang lain. Sebelumnya aku memang pernah dekat dengannya, sangat dekat sudah seperti saudara bagiku. Hari-hari ku penuh dengannya. Sampai akhirnya dia mengenalkanku pada saudara sepupu laki-lakinya. Faris namanya, orangnya kurus dan agak tinggi, wajahnya sangat manis bahkan ketika sesekali iya tersenyum. Dia orangnya ramah dan humoris.
“Oh iya shem, ini kenalin sepupu gue, Faris namanya. Dia semester ke-empat di jurusan Sastra Jepang.” Rosa memperkenalkan Faris padaku.
“Faris.” Faris memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar padaku. Aku membalas kata-katanya dengan menyebutkan namaku sambil membalas senyum manisnya itu. Sejak saat itu aku dan Faris selalu berkomunikasi dan sering bermain bersama Rosa juga tentunya. Setelah beberapa bulan aku mengenal Faris, akhirnya Faris menyatakan cinta dan meminta agar aku menjadi pacarnya. Sebelum aku menjawab permintaan Faris, aku menanyakan hal ini kepada sahabatku Rosa.
“Ros, sepupu lo nembak gue nih. Gue jawab apa? Bingung deh gue.” Ucapku sambil menggaruk-garuk kepala.
“Hah? Serius Shem? Hahaha.. kok dia gak bilang-bilang dulu ya sebelumnya sama gue? Hmmm.. kalo lo ada rasa ama sodara gue itu apa salahnya kalo lo jalanin dulu, kita kan gak tau kedepannya bakal kaya apa. Ya kan?” Rosa memberi saran.
“Iya sih Ros, gue juga kayaknya ada feeling sama Faris.” Jawabku sambil tersenyum. Akhirnya aku pun menerima Faris menjadi kekasihku. Jujur, aku baru pertama kali berpacaran. Aku belum pernah berpacaran dan memang belum terbayangkan sebelumnya. Kini di usiaku yang ke 17 tepatnya disaat aku kelas 3 SMA, aku jadian dengan anak Sastra Jepang semester ke-empat itu. Aku memang belum merasakan cinta dan baru hanya tertarik padanya. Namun, lama-kelamaan aku merasakan hal yang memang aku belum pernah rasakan sebelumnya. Mungkin orang-orang menyebut itu dengan “cinta”.
Rasa cintaku pada Faris telah membuatku berfikir bahwa hanya dialah yang ada di pikiranku. Walaupun aku tahu, sepertinya Faris hanya memanfaatku saja, dia selalu menyuruhku ini itu. Tapi aku tak perduli, aku menganggapnya berarti dia butuh aku. Waktuku selalu untuknya sampai akhirnya aku masuk kuliah dan satu Perguruan Tinggi dengannya namun berbeda jurusan. Aku mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Kesibukanku dengan Faris membuat Rosa sadar bahwa aku telah jarang bermain bersamanya. Rosa pun membuat berita yang tidak-tidak tentang diriku kepada teman-temanku yang lain. Kebetulan Rosa juga masuk Perguruan Tinggi dan jurusan yang sama denganku. Teman-temanku mulai bersikap tak biasa padaku. Kini aku pun perang dingin dengan Rosa. Aku ingin bertanya dan ingin menjelaskan semua padanya. Namun mengapa itu sulit sekali aku lakukan. Seakan-akan tak pernah ada kesempatan itu.
Setiap kali aku berpapasan dengan Rosa, ia selalu berucap “kacang lupa pada kulitnya!” Aku berpikir, kenapa denganku? Apa aku seperti kacang yang lupa pada kulitnya? Akupun berpikir bahwa kacang tidak pernah lupa pada kulitnya. Kacang hanyalah sebagi korban. Dia dipaksa dipisahkan oleh kulitnya, kacangpun lenyap habis dimakan. Sedangkan kulitnya hanya dibuang dan tidak dihancurkan seperti halnya kacang. Kulit kacang hanya berpikir bahwa dia ditinggalkan begitu saja oleh sang kacang tanpa pamit, dia tidak tahu betapa menderitanya ia dibandingkan dengannya. Begitu pula dengan diriku. Kesalahpahaman Rosa membuat aku dan dirinya tak bersama lagi seperti dahulu. Kesedihanku ditambah lagi dengan perginya Faris dari kehidupanku. Dia ternyata sudah tertarik dengan wanita lain dan memutuskan untuk bertunangan dengan wanita barunya itu. Aku tak tahu bahwa ternyata Faris sudah lama bermain api dibelakangku. Padahal aku telah tulus mencintainya. Tapi ia membalasnya dengan itu. Nasi telah menjadi bubur. Aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk mencintaiku ketika ia sudah punya cinta yang lain. Selain itu, Rosa menganggapku telah melupakannya ketika ia sudah berbaik hati padaku. Padahal, aku ingin dia tahu betapaku tak mau kehilangannya. Kini aku benar-benar seperti kacang, tetapi yang tidak pernah lupa pada kulitnya.
Oleh: Labibah Musfiroh
2. Sehari Bersama Transjakarta.
Minggu pagi, tanggal 26 Februari 2012. Bella terbangun dari tidurnya pukul 06.00. Matanya yang setengah sayu itu pun perlahan-lahan terbuka karena tak kuat menahan terangnya sinar matahari yang masuk dari arah jendela kamarnya. Bella bangun dari tempat tidur dan seraya mengulet-uletkan badannya sambil mulutnya yang menguap. Handphone adalah benda pertama yang selalu ia pegang setiap kali ia bangun dari tidur.
“Tinuuuniitt tinuuuutt..” (dering suara ponsel Bella).
Ketika dilihat, ia baru sadar bahwa itu bunyi alarm untuk bertemu dengan Ari sahabat baiknya sejak kecil. Tanpa banyak tingkah lagi, Bella langsung mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Bella pun bersiap-siap, namun ketika Bella mencoba untuk menghubungi Ari, tak ada jawaban dari Ari dan Bella pun panik. Kemana si Ari?
“Huuuuh.. pasti masih tidur.” Bella seraya berbicara dengan ponselnya. Ia pun mulai kesal dan membuka Jejaring soasialnya yaitu twitter untuk sekedar melihat Timeline. Mata Bella tertujuk pada satu status yang di poskan oleh akun yang yang tak asing lagi yaitu detik.com. “ Hari ini tanggal 26 Februari 2012 Transjakarta gratis seharian.” Bella tersenyum lebar, sampai akhirnya giginya keliatan dan berteriak.
“Yuhuuu, jalan-jalan aaaaaah sama Ari naik Transjakarta yuhuuu.” Teriak Bella kegirangan. Tak berapa lama kemudian, Ari pun menghubungi Bella. Namun, ketika Bella mengangkat telpon dari Ari, Bella tak membiarkan Ari memulai pembicaraan. Bukan cacian atau omelan karena kesiangan yang didapatkan oleh Ari, namun teriakan Bella yang mengejutkan.
“Ariiiiii, kita jalan-jalannya gak usah naek motor yaaa!” teriak Bella antusias.
“Hoh loh Bel, kenapa emang?” Tanya Ari heran.
“Iih, kita naek Transjakarta aja sih, ayo ayo mumpung gratis loh hari ini.” Bella membujuk Ari.
“Ih apaan sih norak banget lo bel mentang-mentang gratis gitu.” Ari meledek Bella.
“Yarin deh lo mau bilang gue kaya apaan, yang penting kita naik Transjakarta yuuuk!” Bella membela diri.
“Ogaah ah, pasti penuuuuh Bel, gue gak mau jadi pepesan ah.” Ari menolak.
“Aaah, sekali doang kok, kita gak sering juga kan? Ayolah Ari, Ari ganteng deh.” Bella makin membujuk Ari dengan rayuan.
”Heem, iya deh Bel, iyaaa demi lo nih yaaaa.” Ari akhirnya meluluh. Dan akhirnya mereka janjian di halte Busway yang tak jauh dari rumah mereka masing-masing. Karena kebetulan juga rumah mereka tidak begitu jauh. Ketika bertemu di halte, Bella kaget karena ramainya halte Busway itu. Ari menepuk pundak Bella dari belakang.
“Hei Bel, sorry ya? lo jadi lama nunggu.” Ari meminta maaf atas kedatangan Bella yang lebih awal darinya. Bella tak menghiraukan omongan Ari.
“Bel, lo kenapa sih kok kaya orang aneh gitu?” Ari bertanya kembali.
“Lo gak liat tuh? Antriannya penuh banget, terus ada bacaannya maaf Busway lama.” Bella kecewa tapi Ari menyemangati Bella.
“Hahaha ya ampun Bella, lo sendiri kan yang mau naik Transjakarta, gue udah bilang gak mau tapi lo tetep aja ngotot mau naik Transjakarta. Yaudah gausah manyun gitu ah jelek. Kan ada gue Bel, gue jamin gak bakal bete deh lo seharian sama gue di Transjakarta.” Ari meyakinkan Bella.
“Oh iya ya kan gue yang ngotot mau naik Transjakarta. Yaudah deh yuk lanjut.” Bella mulai senang dan menikmati keadaan yang ada. Tujuan pertama mereka adalah Monas. Ketika sampai di monas Ari menemukan sebuah dompet yang tergeletak di jalanan. Entah siapa pemilik dompet itu. Namun, di dalamnya terdapat uang yang jumlahnya cukup banyak dan terdapat KTP si pemilik dompet. Bella dan Ari melihat alamat yang ada di dalam KTP itu.
“Ari, ini kita kembaliin dompetnya yuk, cari-cari alamatnya hahaha kaya Ayu Ting Ting ya hahaha.” Bella mencoba bercanda.
“Ya gue sih mau aja, tapi kan gue gak bawa motor, jadi ribet banget. Lo sih pake acara naik Transjakarta segala kan ribet. Ari kesal.
“Loh kok nyalahin gue sih? Mana gue tau kan bakal ketemu dompet gini?” Bella makin kesal.
“Ah yaudah deh, lagian juga ini bukan bagian dari rencanan kita, mau ga mau kita harus balikin ini pake Transjakarta.” Ari mengusulkan idenya.
“Nah iya itu tuh begitu juga maksud gue. Yaudah deh yuk meluncur.” Bella mengiyakan maksud dari Ari. Mereka berkeliling kota Jakarta sampai naik turun bus. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah rumah tua dengan lokasi yang sama seperti alamat yang tertera pada KTP yang ada di dalam dompet kulit itu. Setelah memberikan dompet itu kepada pemiliknya, Ari dan Bella kembali menuju rumah dengan Transjakarta. Ketika di dalam bus, Bella hanya duduk terdiam di bangku bus dengan lemas. Ari yang berada di sampingnya hanya bisa menjadi sandaran bagi kepala Bella.
“Gue sayang sama lo, makanya gue rela nemenin lo seharian ini naik Transjakarta.” Ucap Ari berbisik di telinga Bella. Karena terlalu letih Bella sampai tak sadar apa yang diucapkan Ari kepadanya saat itu.
“Tinuuuniitt tinuuuutt..” (dering suara ponsel Bella).
Ketika dilihat, ia baru sadar bahwa itu bunyi alarm untuk bertemu dengan Ari sahabat baiknya sejak kecil. Tanpa banyak tingkah lagi, Bella langsung mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Bella pun bersiap-siap, namun ketika Bella mencoba untuk menghubungi Ari, tak ada jawaban dari Ari dan Bella pun panik. Kemana si Ari?
“Huuuuh.. pasti masih tidur.” Bella seraya berbicara dengan ponselnya. Ia pun mulai kesal dan membuka Jejaring soasialnya yaitu twitter untuk sekedar melihat Timeline. Mata Bella tertujuk pada satu status yang di poskan oleh akun yang yang tak asing lagi yaitu detik.com. “ Hari ini tanggal 26 Februari 2012 Transjakarta gratis seharian.” Bella tersenyum lebar, sampai akhirnya giginya keliatan dan berteriak.
“Yuhuuu, jalan-jalan aaaaaah sama Ari naik Transjakarta yuhuuu.” Teriak Bella kegirangan. Tak berapa lama kemudian, Ari pun menghubungi Bella. Namun, ketika Bella mengangkat telpon dari Ari, Bella tak membiarkan Ari memulai pembicaraan. Bukan cacian atau omelan karena kesiangan yang didapatkan oleh Ari, namun teriakan Bella yang mengejutkan.
“Ariiiiii, kita jalan-jalannya gak usah naek motor yaaa!” teriak Bella antusias.
“Hoh loh Bel, kenapa emang?” Tanya Ari heran.
“Iih, kita naek Transjakarta aja sih, ayo ayo mumpung gratis loh hari ini.” Bella membujuk Ari.
“Ih apaan sih norak banget lo bel mentang-mentang gratis gitu.” Ari meledek Bella.
“Yarin deh lo mau bilang gue kaya apaan, yang penting kita naik Transjakarta yuuuk!” Bella membela diri.
“Ogaah ah, pasti penuuuuh Bel, gue gak mau jadi pepesan ah.” Ari menolak.
“Aaah, sekali doang kok, kita gak sering juga kan? Ayolah Ari, Ari ganteng deh.” Bella makin membujuk Ari dengan rayuan.
”Heem, iya deh Bel, iyaaa demi lo nih yaaaa.” Ari akhirnya meluluh. Dan akhirnya mereka janjian di halte Busway yang tak jauh dari rumah mereka masing-masing. Karena kebetulan juga rumah mereka tidak begitu jauh. Ketika bertemu di halte, Bella kaget karena ramainya halte Busway itu. Ari menepuk pundak Bella dari belakang.
“Hei Bel, sorry ya? lo jadi lama nunggu.” Ari meminta maaf atas kedatangan Bella yang lebih awal darinya. Bella tak menghiraukan omongan Ari.
“Bel, lo kenapa sih kok kaya orang aneh gitu?” Ari bertanya kembali.
“Lo gak liat tuh? Antriannya penuh banget, terus ada bacaannya maaf Busway lama.” Bella kecewa tapi Ari menyemangati Bella.
“Hahaha ya ampun Bella, lo sendiri kan yang mau naik Transjakarta, gue udah bilang gak mau tapi lo tetep aja ngotot mau naik Transjakarta. Yaudah gausah manyun gitu ah jelek. Kan ada gue Bel, gue jamin gak bakal bete deh lo seharian sama gue di Transjakarta.” Ari meyakinkan Bella.
“Oh iya ya kan gue yang ngotot mau naik Transjakarta. Yaudah deh yuk lanjut.” Bella mulai senang dan menikmati keadaan yang ada. Tujuan pertama mereka adalah Monas. Ketika sampai di monas Ari menemukan sebuah dompet yang tergeletak di jalanan. Entah siapa pemilik dompet itu. Namun, di dalamnya terdapat uang yang jumlahnya cukup banyak dan terdapat KTP si pemilik dompet. Bella dan Ari melihat alamat yang ada di dalam KTP itu.
“Ari, ini kita kembaliin dompetnya yuk, cari-cari alamatnya hahaha kaya Ayu Ting Ting ya hahaha.” Bella mencoba bercanda.
“Ya gue sih mau aja, tapi kan gue gak bawa motor, jadi ribet banget. Lo sih pake acara naik Transjakarta segala kan ribet. Ari kesal.
“Loh kok nyalahin gue sih? Mana gue tau kan bakal ketemu dompet gini?” Bella makin kesal.
“Ah yaudah deh, lagian juga ini bukan bagian dari rencanan kita, mau ga mau kita harus balikin ini pake Transjakarta.” Ari mengusulkan idenya.
“Nah iya itu tuh begitu juga maksud gue. Yaudah deh yuk meluncur.” Bella mengiyakan maksud dari Ari. Mereka berkeliling kota Jakarta sampai naik turun bus. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah rumah tua dengan lokasi yang sama seperti alamat yang tertera pada KTP yang ada di dalam dompet kulit itu. Setelah memberikan dompet itu kepada pemiliknya, Ari dan Bella kembali menuju rumah dengan Transjakarta. Ketika di dalam bus, Bella hanya duduk terdiam di bangku bus dengan lemas. Ari yang berada di sampingnya hanya bisa menjadi sandaran bagi kepala Bella.
“Gue sayang sama lo, makanya gue rela nemenin lo seharian ini naik Transjakarta.” Ucap Ari berbisik di telinga Bella. Karena terlalu letih Bella sampai tak sadar apa yang diucapkan Ari kepadanya saat itu.
Oleh: Labibah Musfiroh
3. DUSTA
Oleh : R.Suryo Sumirat
Wahai embun pagi
Wahai juga mentari
Hari – hari indah t’lah menjadi sepi
Dalam dusta semua janji
Gema alunan hati
Nan terkuak dini hari
Alunan kata nan rapi
Dalam dusta semua janji
Cukup sudah permainan ini
Cukup sudah perduli ini
Dalam dusta semua janji
Wahai penyebar api
Cukup sudah dan kau pergi
Dalam dusta semua janji
4. TITIK
Oleh : R.Suryo Sumirat
Titik . . . .
Adalah tanda akhir
Titik . . . .
Juga untuk berhenti berfikir
Titik . . . .
Hanyalah berupa satu noktah
Titik . . . .
Juga sangat bertuah
Titik . . . .
Itu tanda yang mudah
Titik . . . .
Jangalah diubah untuk saya
Karna titik ditambah satu vokal . . .
Adalah istri saya
Nama : Raden Prasdwika Iswara
Kelas : 3EA15
NPM : 13209054
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 2 #
Dosen : Sepitri Daruyani
Kelas : 3EA15
NPM : 13209054
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 2 #
Dosen : Sepitri Daruyani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar